Belajar Ketangguhan dan Kegigihan dari Seorang ‘Ibu Rusmiyati’

Beberapa hari yang lalu, saya melihat suatu postingan di Facebook, yang menginformasikan bahwa ada seorang nenek tua dengan usia yang sangat renta, namun beliau tidak memilih untuk menjadi peminta-minta, beliau memilih untuk menjemput rezeki Allah SWT dengan cara yang halal, dengan berjualan.

Dengan rasa penasaran yang begitu memuncak,  akhirnya bisa dipertemukan dengan wanita hebat ini. Ibu Rusmiyati. Ya, itu nama beliau .

Sebenarnya, siapakah Ibu Rusmiyati ini?

Ibu Rusmiyati atau Ibu Kemi (orang – orang biasa memanggilnya), adalah seorang wanita yang berusia 70 tahun. Beliau tinggal di daerah Bantul. Rumah beliau berukuran 6 x 6 m, yang merupakan rumah bantuan pemerintah pasca gempa tahun 2006 silam. Beliau tinggal sendiri. Keenam anaknya telah merantau dan menikah. Anak – anak beliau akan datang menjenguk beliau saat lebaran Idul Fitri saja. Yang berarti satu kali dalam setahun :”)

Bagaimana dengan kondisi fisik beliau?

Kondisi fisik Ibu Rusmiyati masih cukup sehat, meski jalannya harus membungkuk dan pendengarannya sudah mulai berkurang. Dengan kondisi fisik yang seperti ini, beliau memilih untuk berjualan. Saat ditanya mengapa beliau ingin berjualan padahal usianya sudah tua, Beliau menjawab, bahwa ini lah yang membuatnya bahagia.  Dengan berjualan, beliau dapat bertemu dengan orang dan dapat melihat dunia luar. Ini lebih membahagiakan daripada beliau harus tinggal di rumah sendiri dan sepi.

Kemudian, bagaimana dengan kondisi warung Ibu Rusmiyati ini?  

Jangan bayangkan warung itu terbuat dari dinding tebal dan kokoh.  Penuh dengan perabot dan lain sebagainya. Warung Ibu Rusmiyati ini terbuat dari kayu dan bambu, dengan atap seng, dan dilapisi dengan karpet biru sebagai penutup atap. Warung ini berukuran sangat kecil. Atapnya begitu pendek, sehingga kita harus membungkukkan sedikit badan untuk masuk ke dalamnya.

Lalu, Apa yang dijual di warung Ibu Rusmiyati ini?

Ibu Rusmiyati menjual bensin, sabun, jajan, roti, dan lain – lain. Sangat sederhana. Ketika ditanya dari mana beliau membeli itu semua, Beliau menjawab bahwa barang dagangan tersebut beliau peroleh dari anaknya yang rumahnya tak jauh dari rumah beliau. Beliau bercerita banyak hal , termasuk banyaknya pembeli yang berbuat curang. Beberapa waktu yang lalu, beliau pernah dompetnya diambil oleh salah satu pembeli. Konon katanya, pembeli tersebut memesan minuman teh. Pada saat Ibu Rusmiyati ini membuat teh di rumah beliau (rumah beliau berada di belakang warung), pembeli tersebut telah pergi dan membawa dompet Ibu Rusmiyati yang berjumlah sekitar Rp. 350.000,-. Tak hanya itu, ada pula pembeli yang membayar dengan uang palsu (nominal Rp. 100.000), dan pembeli yang berbohong dengan berpura-pura tidak membawa uang dan akan mengambil uang di rumahnya, tetapi sampai saat ini belum juga kembali kesana.

Apakah Ibu Rusmiyati marah?

Tidak. Beliau tidak pernah marah. Beliau membiarkan saja orang yang memang berbuat jahat kepada beliau. Beliau beranggapan bahwa mungkin mereka melakukan hal itu karena mereka butuh, toh rezeki sudah ada yang mengatur. Begitu kata beliau.

Berapa penghasilan Ibu Rusmiyati dengan berjualan ini?

Tidak tentu. Terkadang bisa hanya sedikit, dan bisa juga banyak, Rp.30.000,-,Rp. 50.000, Rp.100.000,-, bahkan tidak ada sema sekali, yang berarti bahwa tidak ada pembeli satupun pada hari itu.

Bagaimana dengan ibadah beliau?

Poin ini yang benar-benar mengharukan. Di usianya yang sangat tua dan lemah, beliau tak pernah absen untuk shalat lima waktu. Bahkan shalat sunnah, shalat tahajud. Ketika ditanya, mengapa beliau sangat rajin beribadah? Jawaban beliau sangat menggetarkan hati, “Karena yang aku punya, yang Maha Pemberi, itu hanya Allah SWT. Maka dengan apa aku membalas kebaikan-kebaikanNya? Tentu dengan shalat , dengan ibadah. Allah sudah sangat baik. Memberikan rezeki, memberikan kesehatan. Tak mungkin rasanya kalau aku meninggalkan shalat.”

Beliau berpesan bahwa, “Amal itu sangat lebih berharga dari apapun, lebih-lebih daripada harta. Amal bisa menolong kita di akhirat, sedangkan harta tidak, ia tak bisa dijadikan bekal nantinya.”

Haru. Kagum.

Dengan ketabahannya, dengan kelapang-dadaannya, dengan sabarnya, dengan tidak pernah mengeluhnya, dan dengan istiqamahannya dalam beribadah.

Lalu, mari coba kita refleksikan diri. Bertanya pada kepada diri kita masing-masing, “Sudah seberapa tabah, sudah seberapa sabar, dan sudah berapa istiqamahkah kita dalam beribadah kepadaNya? Dan, apakah pantas jika kita masih mengeluh?”

Semoga kita dapat belajar dari gigihnya seorang wanita yang meski renta dalam usia, akan tetapi hati dan jiwanya masih sangat muda.

Semoga beliau selalu dalam lindunganNya.

Aamiin. Allahumma Aamiin.

img201702271058331
Ibu Rusmiyati ; tenang ; tabah
img201702271101001
Kondisi warung Ibu Rusmiyati. Sederhana. Sangat sangat sangat sederhana
img201702271042101
Beliau sedang mengisi kembali bensin ke dalam botol
img201702271045171
Rumah beliau , tepat di belakang warung
img201702271044001
Barang yang beliau jual
img201702271044161
Barang yang beliau jual
img201702271043211
Kondisi warung beliau, dari kejauhan
Iklan

6 thoughts on “Belajar Ketangguhan dan Kegigihan dari Seorang ‘Ibu Rusmiyati’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s